Revolusi Bioethanol di Brazil yang Luar Biasa

Brazil, bukan hanya jago di bidang sepakbola, tapi juga ahli dalam mengelola energi.

Ketika tertimpa krisis minyak dunia pada 1973, Brazil langsung punya ambisi besar, yaitu ingin terlepas dari ketergantungan pada minyak bumi dunia. Dan setelah 3 dekade berjuang, mereka sukses besar, sekarang ekonominya tumbuh tak tertahankan tidak dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia.

Sekarang, jika masuk ke SPBU di seluruh pelosok2 Brazil, jangan harap bisa mengisi minyak bensin atau minyak solar seperti di Indonesia.

Di Brazil, bensin murni dan minyak solar tidak dijual lagi. Pilihan utama untuk bahan bakar hanyalah Bioethanol, Biodiesel, Gas Alam, atau charger listrik. Ada juga bensin yang telah dicampur misalnya 85% atau 25% Bioethanol. Adapun Bioethanol dibuat dari jus tebu yang telah diperam (fermentasi).

Sedangkan kita, masih mengagung-agungkan diri sebagai negeri kaya, walaupun sudah sejak 2010 kita ditendang keluar dari keanggotaan OPEC.

Kita masih mengimport minyak dari luar negeri dengan harga mahal, kemudian menjual dengan harga murah (subsidi) kepada masyarakat. Kerugiannya ditanggung oleh APBN. Setiap tahun hampir 30% APBN Indonesia habis untuk menutupi kerugian karena tata kelola energi yang salah. Padahal 30% itu besar, dan banyak bidang lain yang lebih membutuhkan…

Brazil bukannya tidak punya minyak dan gas bumi. Mereka punya banyak, dan tetap mereka ambil, lalu mereka olah di kilang-kilang minyak sendiri, dan kemudian mereka jual semua hasilnya keluar negeri.

Bioethanol Brazil, selain untuk mobil-mobil sendiri, juga dijual ke luar negeri, sangat lumayan untuk devisanya. Indonesia?, mungkin disini tidak cocok untuk bercocok tanam tebu…

(Gambar: Suasana sebuah pabrik pengolah tebu menjadi gula dan bioethanol di Sao Paolo)

(Gambar Atas: Armada pengangkutan tebu yang akan diolah menjadi ethanol di Brazil)

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *