Rencana Pengembangan Geothermal Hitay di Area Kappi Gayo Lues (Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser)

Pada 2016, PT Hitay Panas Energy, sebuah perusahaan investasi dari Turki, berhasil melobi Pemerintah Aceh dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga mendapat dukungan atas proposal bisnisnya untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal) di area Kappi, Gunung Kembar, Gayo Lues, dengan kapasitas 50 MW, dari perkiraan potensi maksimal 140 MW.
Pemerintah Aceh kemudian mengajukan permohonan kepada Kementerian Kehutanan agar merevisi Zona Inti tersebut serta memberi dukungan untuk pengembangan energi terbarukan tersebut.
Sekitar 5000 Ha lahan dibutuhkan untuk proyek ini. Taman Nasional Gunung Leuser sendiri memiliki total lahan sebesar 1 juta hektar.
Kemudian, karena lokasi pembangkit ini yang jauh dipedalaman hutan, maka akan diperlukan pembangunan tower-tower listrik untuk transmisi jarak jauh (SUTET 150 kV), mengangkut listrik tersebut ke gardu induk di Blangkejeren atau Kutacane.

Perlu waktu sekitar 5-10 tahun sejak dimulai studi eksplorasi sampai dengan tahap produksi listrik. Dan diperkirakan kebutuhan investasi adalah sekitar 150-200 juta dollar (2 s.d 3 trilyun rupiah). Mahal sekali. Kemudian ketika beroperasi nanti, dari penjualan listriknya kepada PLN, maka PT Hitay Panas Energi akan menerima pendapatan kotor sebesar 400 milyar rupiah. Kira-kira 15 tahun akan balik modal.
Pemerintah Aceh mungkin jika tidak ikut berinvestasi, maka hanya akan mendapat sedikit pemasukan berupa pajak.

Namun, yang jadi pertanyaan adalah, apa plus-minusnya geothermal Hitay bagi rakyat Aceh? Apa dampak eksploitasi kawasan Zona Inti Luser tersebut? Berapa biaya kerusakan lingkungan yang akan ditanggung oleh masyarakat Aceh generasi sekarang dan mendatang?

Nilai konservasi, kekayaan dan keaneka ragaman hayati di Taman Nasional Gunung Leuser adalah sangat tinggi. Ini merupakan tempat terakhir di muka bumi dimana komunitas gajah sumatra, badak, harimau, dan orang utan hidup berdampingan. Terdapat 125 spesies mamalia di kawasan ini, yang merepresentasikan 25% spesies-spesies mamalia yang ada di Indonesia.
Kawasan ini juga merupakan situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO.
Empat sungai utama di Aceh berhulu di Leuser, maka besar sekali dampak hidrologi yang terjad jika Leuser dirusak. Siklus air sungai, air bawah tanah, erosi, banjir, dan longsor, pasti akan terganggu, dan akan menghabiskan waktu dan uang yang banyak untuk memperbaikinya.

Memang, siapa yang tidak butuh listrik. Namun tidak adil rasanya jika mengorbankan Leuser dan kerugian-kerugian lainnya hanya demi 50 MW.
50 MW itu pun jauh sangat kecil dibanding kan potensi-potensi listrik lainnya di Aceh yang lebih sehat. Banyak sumber panas bumi tersebar di Aceh dengan total mencapai 1200 MW (versi PLN Aceh dan Distamben Aceh), yang membutuhkan biaya investasi lebih murah, lebih dekat dengan pusat beban listrik, keuntungan lebih banyak, seperti potensi panas bumi di Seulawah Agam (185 MW). Ie Su’um (63 MW), Jaboi (50 MW), Geurudong (120 MW), Silih Nara (100 MW), Alue Long Bangga (100 MW), dan lain-lain dengan total ada 17 (tujuh belas) lokasi.

Sebenarnya, ada apa dibalik ini? apakah ada alasan lain selain listrik panas bumi? dan siapa di balik rencana merusak Leuser ini?
Pemerintah Aceh jangan semudah itu memberi dukungan. Menggadaikan kepentingan Aceh demi kepuasan kekuasaan sesaat.

Konflik berkepanjangan di Aceh juga memiliki hikmah, salah satunya adalah hutan yang masih terjaga. Bandingkan dengan hutan di bagian Sumatra lainnya, di Jawa, di Kalimantan, di Sulawesi…hampir habis.
Namun sekarang sudah perdamaian, hutan Aceh adalah harta karun, dan banyak yang mengintai untuk mencari untung sesaat. Berhati-hatilah.

Yang jelas, jangan salah paham, bukanlah kita ini tidak senang dengan masuknya investasi, atau menolak pengembangan energi terbarukan, tapi carilah lokasi yang tepat. Banyak lokasi-lokasi sumber panas bumi yang lain yang lebih cocok dan menguntungkan dibandingkan Kappi. Bahkan masih banyak jenis-jenis investasi lain yang jauh lebih menguntungkan dan berkelanjutan, seperti PLTA, Minihidro, Surya, Angin, Biomassa, juga misalnya pabrik pengalengan ikan, pabrik produksi tepung, pengolahan kopra, dan macam-macam lainnya.

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *