Potensi Energi Biomassa di Aceh

Dengan luas area pendudukan dan kultivasi mencapai 2.934.602 Ha, atau 52,3% dari luas Provinsi Aceh, terdapat potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan berbasis sektor agrikultur, hortikultura, dan perkebunan.

Tebu di Ketol, Aceh Tengah, dan jagung di Aceh Tenggara berpotensi diproses menjadi bioetanol untuk menggantikan bensin.

Minyak sawit, diproduksi secara massif di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Singkil dna Nagan Raya, bisa dimanfaatkan sebagai biodiesel menggantikan minyak solar. Pelepah dan batang sawit bisa dibakar untuk memanaskan boiler, menggantikan batubara. Bahkan, limbah cair dari pabrik minyak sawit bisa untuk memproduksi gas metan untuk menjalankan generator listrik.

Sekam padi, agrikultur utama di Aceh, bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar mesin termal, seperti dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia in Lhoknga, Kab. Aceh Besar.

Sumber biomassa lainnya yang eksis di Aceh adalah jagung (​​47.967 ha), soybean (32.796 ha), peanut (2,019 ha), green beans (1,522 ha), cassava (2,224 ha), dan sweet potatoes (793 ha).

(Aceh Investment Profile, 2016).

Indonesia juga adalah produsen kakao terbesar ketiga di dunia, dan Aceh merupakan produsen utamanya, tersebar di, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Selatan.

Kopi Gayo, salah satu yang terbaik di dunia. Ditanam secara massif terutama di dataran tinggi Gayo. Hasil sampingan industri kopi adalah cangkang kopi, yang bisa menjadi sumber biomassa berkualitas.

Dapur memasak gula merah dari tebu di ketol, Aceh Tengah; Cangkang kopi dari kilang roasting kopi di Takengon, Aceh Tengah; Lahan kelapa sawit di Pulau Simeulue; PT Lafarge Cement di Lhoknga memanfaatkan sekam padi sebagai campuran batubara.

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *