PLTMH di Kec Putri Betung, Gayo Lues

Kecamatan Putri Betung merupakan daerah yang sangat spesial, karena terletak di tengah-tengah kawasan lindung dan taman nasional, terisolir di antara Kota Kutacane dan Kota Blangkejeren, sehingga tidak bisa dijangkau oleh jaringan PLN.

Kondisi ini menyebabkan pihak Pemkab Gayo Lues berusaha mencari solusi untuk melistriki wilayah ini yang dihuni oleh 7.297 jiwa (1.839 rumah tangga) (Gayo Lues dalam Angka, 2017).

Solusi yang paling layak secara teknis dan finansial adalah dengan memberdayakan sumber air sungai sebagai penggerak generator listrik.

Kini, dari 16 PLTMH yang terdapat di Kab. Gayo Lues, 8 unit berlokasi di Kec. Putri Betung. Kecamatan ini menjadi kecamatan yang memiliki rasio elektrifikasi 100% dan bersumber 100% dari tenaga air.

Berkat prestasi ini, Kab. Gayo Lues sempat mendapat penghargaan bergengsi yaitu ‘Prabawa Energi’ dari Kementerian ESDM pada 2012.

Sejarah panjang pengembanga PLTMH di Gayo Lues dimulai sejak 1998, ketika Japan International Agency (JICA) menginisiasi pembangunan PLTMH di Rerebe, Tripe Jaya, dan kemudian diikuti dengan pembangunan sejumlah PLTMH memanfaatkan dana dari BRR, APBA dan APBN (ESDM).

Sejumlah PLTMH telah disinkronkan dan dikoneksikan dengan jaringan PLN guna menyuplai listrik ke Sistem Blangkejeren. Usaha ini mampu mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kira-kira Rp. 2 Milyar per tahun (Syaridin, 2017).

Sejumlah PLTMH lainnya masih dikelola secara mandiri oleh koperasi-koperasi warga desa, namun dengan dukungan pelatihan dan teknis dari PLN.

Karena menggunakan dana dari Pemerintah, dibutuhkan minimal 2 tahun untuk pengembangan setiap unit PLTMH. Tahun pertama dilakukan proses survey dan penggambaran Detailed Engineering Design (DED) menggunakan dana APBK, kemudian tahun kedua dilakukan pengerjaan fisik menggunakan dana dari ABPA atau APBN.

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *