PLTBm Bambu Berbasis Masyarakat di Mentawai

Di Kab. Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, terdapat 4 pulau utama yang berpenghuni yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, dengan total populasi 85.348 jiwa (20.259 Rumah Tangga).

Rasio elektrifikasi Mentawai paling rendah daripada semua daerah di Sumbar alias baru 29,80%. Dari 43 desa di Kab. Kepulauan Mentawai, PLN baru mampu melistrik 23 desa.

Sebagai solusi, pemerintah kabupaten, juga Kementerian ESDM, bersama-sama berusaha mengembangkan PLTS. Hingga saat ini sudah 37 PLTS komunal berhasil dipasang, lumayan mendongkrak rasio elektrifikasi menjadi 43,6%.

Sejak tahun 2017, sebuah sistem Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Bambu dikembangkan, yaitu di desa Desa Saliguma, Madobak dan Matotonan yang termasuk kawasan biosphere reserve, yang hanya bisa dicapai menggunakan boat dengan waktu perjalanan 4 jam pusat kabupaten.

Listrik dihasilkan melalui gasifikasi – proses pemanasan biomassa di ruang khusus dengan kadar kadar oksigen sangat kecil, kemudian gas sintetik yang dihasilkan dijadikan bahan bakar pada mesin gas yang akan memutar generator listrik. Untuk setiap 1 kWh listrik yang diproduksi, dibutuhkan biomassa bambu sebanyak 1,5 kg.

Memanfaatkan dana hibah dari Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) sebesar $ 12.4 Juta Pemkab Mentawai bekerjasama dengan PT. Charta Putra Indonesia melakukan perencanaan dan konstruksi sistem ini. Kemudian pengelolaannya sepenuhnya dibawah kendali BUMD yang dibentuk masyarakat, Mentawai Pembangunan Hijau. Listrik yang dihasilkan kemudian dijual kepada PLN untuk didistribusikan kepada masyarakat.

Terdapat tiga unit pembangkit dengan kapasitas total 700 kW, mampu melistrik 1223 rumah (sekitar 6000 jiwa). Masing-masing rumah mendapat jatah 450 Watt.

Sistem ini memiliki skema pemberdayaan masyarakat. Yaitu bambu ditanam oleh masyarakat di lahan masing-masing, kemudian dijual kepada PLTBm. Bibit bambu dibagikan gratis oleh MCAI. Tidak ada penguasaan lahan-lahan masyarakat oleh PLTBm.

Listrik yang dihasilkan kemudian dialirkan kembali kepada masyarakat dengan harga standar PLN (subsidi), sehingga mampu menggerakkan sendi-sendi perekonomian rakyat.

Setiap hektar lahan mampu menghasilkan 5-10 ribu batang bambu per tahun, atau sekitar 10-20 ton. Sehingga dibutuhkan sedikitnya 1000 hektar lahan bambu, untuk kebutuhan 6000 ton bambu untuk PLTBm setiap tahun secara berkesinambungan.

Untuk memaksimalkan dampak ekonomi lokal,  produk sampingan berupa arang – juga akan digunakan untuk memasak dan me-rekondisi tanah perladangan rakyat.

Bambu adalah tanaman asli dan merupakan kultur integral masyarakat Mentawai, digunakan untuk berbagai keperluan kehidupan, mulai dari membuat rumah, masak air, masak ikan, masak sagu, dan berbagai kerajinan.

Bambu adalah tanaman yang tumbuh tercepat di darat. Bambu bisa tumbuh 2 meter dalam satu minggu, dan sangat haus menghisap karbon dioksida (gas rumah kaca). Bambu juga menghasilkan oksigen 35% lebih banyak dari tanaman lain yang memiliki tinggi sama.

Selain sebagai “Carbon Sinks” alami terbaik, bambu dapat ditanam di lahan kritis, sehingga dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan, pencegah erosi, dan juga bisa menjadi bahan dasar untuk pulp dan kertas, tekstil, pengganti kayu atau arang untuk pemurnian air, dan energi.

Bambu adalah tanaman yang sangat berkelanjutan, dia terus tumbuh setelah panen berbatang-batang setiap tahunnya. Tunas baru datang setiap tahun, untuk menggantikan batang yang dipanen.

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *