Pesan untuk Aceh dari ‘Sexy Killers’

Sama seperti menggunakan energi nuklir (uranium, plutonium), biaya membuat listrik dari batubara adalah sangat murah, sekitar 500 perak per kWh. Kenapa? karena ketika membuat listrik dari nuklir atau batubara, maka biaya lingkungan, biaya keselamatan, biaya keamanan adalah tidak diperhitungkan. Semua risiko itu akan ditanggung bersama oleh masyarakat, LSM, pemerintah, dll, ketika nanti terjadi bencana atau kerusakan.

Di Aceh sedang dibangun PLTU Nagan unit 3 dan 4, menambah unit 1 dan 2 yang sudah beroperasi. Tau darimana asal batu bara untuk PLTU Nagan 1 dan 2? dari Sumatra Barat dan Kalimantan.
Di Lhokseumawe juga ada PLTMG, bahan bakarnya adalah gas alam yang disuplai dari Blok Tangguh Papua. Jauh? ya.
Memang berat menghentikan bisnis listrik batu bara, gas alam, minyak diesel, …karena banyak agen disitu yang mendapat untung dari panjangnya rantai suplai bahan bakar.

Negara-negara yang lebih beradab sudah sadar dan secara bertahap menghentikan penggunaan bahan bakar fosil. Contohnya Norwegia, Finlandia, Swedia, Islandia, sangat intensif memanfaatkan energi air dan panas bumi. Bahkan, Jerman, negara yang jauh dari kahtulistiwa dan sedikit mendapat jatah sinar matahari, sangat bersemangat mengembangkan energi surya.

Kendala utama pembangkit-pembangkit listrik energi terbarukan adalah modal investasi yang lebih tinggi. Namun pembangkit jenis ini tidak memerlukan bahan bakar, sehingga biaya operasional dan perawatan menjadi sangat kecil. Jika dianalisa secara jangka panjang, maka energi terbarukan jelas lebih unggul (murah) daripada menggunakan bahan bakar fosil.

Untuk jangka panjang, Aceh sebenarnya tak perlu PLTD, PLTU, PLTMG, dan lain-lain yang berbahan bakar fosil. Aceh bisa mandiri energi dengan memanfaatkan potensi energi surya, air, panas bumi, biomassa, biogas, angin, dan lain-lain.
Dari bermacam-macam sumber itu, yang paling murah (least cost) untuk dikembangkan di Aceh adalah energi air. Tak perlu PLTA yang memerlukan bendungan setinggi ratusan meter, cukup PLTMH (mikrohidro) atau PLTM (minihidro) dibangun di sungai-sungai yang ada diseluruh Aceh.
Endatu sudah membangun kampung-kampung pemukiman, keudee-keudee, di sekitar sungai-sungai: Kr Meureedu, Kr Ulim, Kr Batee Iliek, Kr Jeunieb, Kr Teunom, Kr Babah Rot, Kr Lamno.. cukup dengan membangun pembangkit listrik air skala mini di sungai-sungai itu, sesuai kebutuhan masing-masing kecamatan.

Tentu kita tak sanggup dalam gelap gulita kepanasan di tengah malam, namun juga tidak bijak untuk terus menerus membakar karbon yang mencemari lingkungan sedangkan alternatif lainnya tersedia. Mari berubah menjadi lebih baik secara perlahan-lahan. Janganlah kelakukan kita di masa sekarang menjadi masalah besar yang menjadi beban generasi-generasi mendatang.

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *