Jangan jadikan Beutong Ateuh seperti Freeport di Papua

Kontributor: Diyus Hanafi/Teuku Faisal

Adalah Suku Amungme dan Suku Kamoro di pedalaman Pulau Papua, mereka hidup nyaman di pegunungan sejak dulu kala. Salah satu gunung mereka adalah Gunung Nemangkawi, gunung suci berlimpah emas, tembaga, dan perak, dimana roh-roh nenek moyang bersemayam.

Bangsa eropa pertama kali menjejakkan kaki di Papua adalah pada 1912 melalui Ekspedisi Eropa Pertama, dilanjutkan oleh Ekspedisi Cartenz pada 1936.
Indonesia kemudian merebut Papua dari tangan Belanda pada 1963. Dan pada 1967, Soeharto selaku Presiden Indonesia dengan mental inlander-nya menyerahkan Gunung Nemangkawi itu kepada PT Freeport dengan sistem kontrak karya. Dan sejak saat itu dimulailah pengerukan besar-besaran, mengangkut emas, perak, tembaga, sampai dengan hari ini di tahun 2019, dan akan berlanjut berpuluh-puluh tahun ke depan.
Perusahaan kapitalis Amerika Freeport McMoran Copper and Gold Inc ini menjadi kaya raya.
Setiap tahun puluhan triliun rupiah berhasil didapat dan dikirim ke Amerika Serikat. Sebagian kecil dibayar ke Jakarta sebagai fee dan pajak.

Suku Amungme, serta suku Kamoro yang miskin, diusir dari kawasan itu. Setiap ada protes atau demonstrasi, akan dianggap sebagai gerakan OPM dan dihadapi dengan ganas oleh TNI yang dibiayai Freeport.
Suku Amungme tetap miskin, kehidupan sosial masyarakat jadi berantakan, standar hidup rendah, pekerjaan tradisional menjadi lenyap, sebagian menjadi buruh kasar di tambang, banyak yang kecanduan alkohol, virus HIV/AIDS merajalela.
Ratusan ribu ton limbah residu beracun dan sulfida dibuang PT Freeport ke sungai Aijkwa setiap hari. Ikan-ikan mati, ekosistem hancur, masyarakat dilarang meminum air sungai.

Tidak jauh dari situ, Blok Tangguh, di teluk Bintuni, perusahaan asal Inggris, British Petroleum (BP) mengeruk gas alam. Mereka menjadi kaya raya, orang-orang Papua tetap menjadi penonton yang miskin dan budiman.

Konflik bersenjata di Aceh selama puluhan tahun memiliki hikmah, salah satunya adalah selamatnya hutan dan terjaganya alam Aceh dari eksploitasi imperialis kapitalis.

Kawasan hutan Beutong Ateuh adalah basis pertahanan terakhir Cut Nyak Dhien ketika melawan Belanda. Syuhada-syuhada meregang nyawa, dan makamnya bertebaran di kawasan itu.
Konflik GAM dengan Indonesia juga menjadi sejarah, banyak korban yang syahid, yang paling terkenal adalah Tgk Bantaqiah dan santri-santrinya yang dibantai TNI.

Pada 2006, setahun setelah MoU Helsinki, PT Emas Mineral Murni (EMM), dengan saham dari Asiamet Resources Limited (perusahaan dari Australia) dan Grup Media (milik Surya Paloh, Partai Nasional Demokrat) mengajukan izin eksplorasi.
Bupati Nagan Raya memberikan izin eksplorasi (SK Bupati Nagan Raya Nomor 545/68/KP-EKSPLORASI/2006 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi), berlaku 3 tahun. Kemudian diperkuat oleh keputusan Gubernur Aceh Nomor 545/12161 tanggal 8 Juni 2006 perihal Rekomendasi Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT Emas Mineral Murni.
Pada 2009, Ditjen Minerba, Batubara, dan Panas Bumi (Kementerian ESDM) juga mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (Nomor 1053/30/DJB/2009 tertanggal 23 maret 2009).
Izin eksplorasi dari Bupati kemudian diperbarui pada 2010 (SK Bupati Nagan Raya Nomor 545/22/SK/IUP-Ekspl/2010 tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi Kepada PT Emas Mineral Murni).

Kemudian PT EMM mengurus AMDAL untuk area seluas 3620 hektar. 99% masyarakat menolak, sehingga PT EMM kemudian memalsukan tanda tangan masyarakat, yang kemudian hari dibuktikan di persidangan.

Dalam perjalanannya, akhirnya PT EMM mengambil jalan pintas, merubah skemanya menjadi skema Penanaman Modal Asing (PMA), menikung otoritas pemerintah provinsi dan kabupaten di Aceh, dan akhirnya mendapat Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi melalui SK Kepala BKPM Nomor 66/1/IUP/PMA/2017 pada tanggal 19 Desember 2017, untuk komoditas emas dengan luas areal 10.000 hektar.

Berdasarkan analisa koordinat dari data di dokumen AMDAL PT EMM, area IUP Operasi Produksi 10.000 ha ini berada di Kecamatan Beutong 21,71 ha, Beutong Ateuh Banggalang 6.259,93, Kabupaten Nagan Raya. Lalu di Kecamatan Peugasing 2.084,81 hektare, Kecamatan Cilala 1.259,74 ha, Kabupaten Aceh Tengah. Dengan rincian: Hutan Lindung 5.981,87 ha (HL dalam KEL 918,25 ha), APL 3.914,33 ha (APL dalam KEL 343,22 ha).

Kawasan hutan Beutong Ateuh adalah koridor satwa kunci di Aceh seperti gajah, harimau, badak, burung rangkong. Merupakan jalur akses (penghubung) antara hutan Kawasan Ekosistem Leuser dengan hutan Ulu Masen.

Jika PT EMM mulai mengeruk emas di gunung tersebut, investornya di Australia dan Pak Surya Paloh dipastikan akan kaya raya. Namun masyarakat akan dibebani dengan kerusakan lingkungan, bencana, dan konflik dengan satwa liar.
Kuburan para syuhada akan hilang ditelan lobang-lobang galian pertambangan seperti di Gunung Nemangkawi di Papua, kemudian Krueng Meureubo sebagai alur nadi siklus hidrologi di kawasan ini dipastikan akan tercemar. Ikan-ikan keureuling akan mati, ekosistem rusak, banjir bandang akan datang secara rutin setiap tahun di kawasan ini. Masyarakat akan kehilangan mata pencaharian tradisional, kehidupan sosial masyarakat akan hancur. Dikhawatirkan gerakan separatis akan muncul kembali di Aceh. (DH/TF).

Sebar berita baik ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *