Apa itu EBT?

Matahari merupakan sumber energi utama dalam sistem tata surya kita. Reaksi fusi nuklir yang terjadi dalam inti matahari menyebarkan radiasi panas ke seluruh penjuru tata surya.

Panas dari matahari tersebut menjadi penyebab berubahnya cuaca, berhembusnya angin, mengalirnya arus, fotosintesis, siklus karbon, siklus air, dan siklus-siklus biogeokimia lainnya di planet bumi.

Skema Siklus Air (Sumber: https://sciencestruck.com/water-cycle-project-ideas)

Beragam dinamika tersebut kemudian menjadi dasar bagi berlangsungnya proses-proses konversi energi yang menjadi sumber energi primer di bumi, baik itu yang dikategorikan sebagai sumber energi tidak dapat diperbaharui seperti bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi, dan gas alam) dan uranium, serta yang dikategorikan sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui seperti energi air, energi angin, panas bumi, biomassa, arus laut, dan lain-lain.

Skema jumlah energi yang diterima Planet Bumi dari Matahari (Sumber: https://earthobservatory.nasa.gov/features/EnergyBalance/page1.php)

Energi fosil (batu bara, minyak bumi, gas alam) itu sebenarnya memiliki siklus juga, alias dapat diperbaharui, namun karena proses pembentukannya dalam lapisan bumi membutuhkan waktu jutaan tahun lamanya, tidak sebanding dengan singkatnya waktu yang diperlukan untuk eksploitasi dan utilisasinya, sehingga dikelompokkan sebagai sumber energi yang tak dapat diperbaharui.

Sedangkan sumber energi yang dikatakan terbarukan akan terus ada selama ada panas dari matahari (energi angin, energi air, energi surya, biofuels, biomassa, biogas), sumber panas bumi (geothermal), dan gravitasi bulan (energi pasang surut).

Adapun jenis-jenis biofuels, yaitu biomassa, biogas, biodiesel, dan bioethanol, walaupun terjadi pembakaran karbon ketika utilisasinya, namun tetap dimasukkan dalam kategori energi terbarukan, karena dibutuhkan waktu yang singkat untuk siklusnya, serta terjadi penangkapan karbon dalam proses penumbuhannya.

Sedangkan listrik disebut sebagai bentuk energi sekunder, karena listrik diciptakan dengan melakukan pembakaran satu atau beberapa jenis energi primer, baik energi fosil maupun energi terbarukan, baru kemudian ditransmisikan dan didistribusikan untuk dimanfaatkan oleh pengguna.

Namun, pembakaran energi fosil adalah sangat berbahaya, karena karbon yang sudah jutaan tahun tersimpan dalam perut bumi tersebut tiba-tiba dilepaskan dan menjadi polusi di udara, dan bersama dengan gas rumah kaca lainnya akan merusak keseimbangan komposisi udara di stratosfer, sehingga memicu terjadinya pemanasan global, yang akhirnya menyebabkan perubahan iklim, pencairan es kutub, kenaikan air permukaan laut, dan masalah-masalah lainnya.

Kebutuhan air bersih, makanan, energi, dan oksigen akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi manusia. Sedangkan daya dukung dan daya tampung planet bumi ada batasnya.

Jumlah kawasan hutan untuk memproduksi oksigen semakin sedikit, jumlah cadangan migas semakin berkurang, sumber air bersih semakin berkurang, lahan untuk produksi makanan semakin menipis, sehingga jika tidak diantisipasi baik dengan teknologi maupun solusi-solusi alternatif lainnya, maka suatu saat pertumbuhan populasi akan menjadi masalah besar, akan terjadi ketidak seimbangan sistem lingkungan planet bumi. Dan ketika mencapai batas kapasitas maksimumnya, maka akan terjadi kekacauan di planet bumi yang akan berhenti pula ketika dicapai kembali keseimbangannya. (Club of Rome, 1972)

Daftar keunggulan Energi Terbarukan dibandingkan Energi Fosil:

  • Biaya produksi listriknya tidak tergantung pada harga bahan bakar fosil yang berfluktuasi
  • Sumber daya yang tidak akan pernah habis, selama matahari bersinar, angin berhembus, dan air mengalir
  • Tidak memiliki efek samping seperti menghasilkan CO2 atau gas beracun lainnya
  • Mampu menciptakan ribuan lapangan kerja baru
  • Biaya operasional pembangkit yang rendah, dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil
  • Bisa dibangun dengan berbagai skala dan di berbagai tempat, bahkan di lokasi yang terisolir
  • Tidak tergantung pada sistem Jaringan Transmisi Tegangan Tinggi yang membutuhkan biaya investasi besar

Kelemahan Energi Terbarukan:

  • Biaya pengembangan yang tinggi, baik untuk riset maupun konstruksi awal
  • Bersifat intermitten (tidak stabil), sangat riskan dengan kondisi cuaca seperti hujan, mendung, angin yang pelan, dan lain-lain
  • Metoda penyimpanan (batere) dan evakuasi energi yang masih mahal
  • Tidak bisa dioperasikan dalam kapasitas yang besar dalam waktu yang singkat seperti PLTD atau PLTU
  • Membutuhkan area yang luas untuk membangun pembangkit berkapasitas besar

Energi terbarukan merupakan solusi masa depan dalam memenuhi kebutuhan energi demi mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang berkelanjutan, sesuai dengan daya tampung dan daya dukung planet bumi yang terbatas tersebut.